Miris, Minimnya Dokter Spesialis, Rumah Sakit di Bogor Timur Tak Mampu Layani Pasien BPJS

Miris, Minimnya Dokter Spesialis, Rumah Sakit di Bogor Timur Tak Mampu Layani Pasien BPJS

Bogor Kabarindoraya.com- Gencarnya sosialisasi program BPJS di Kabupaten Bogor tidak diimbangi dengan ketersediaan dokter spesialis dan dokter umum yang ideal.

Akibatnya pelayanan kesehatan seperti di RSUD Cileungsi, RS Merry, RS Thamrin di Bogor Timur masih mengalami banyak kendala.

Salah satunya yang menjadi korban jebakan program BPJS kesehatan ini adalah Odeh binti Enin (54) yang didiagnosa menderita penyakit kelenjar dan jantung, pasien asal warga Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi ini, saat dirujuk ke RS Merry (9/10/2017) mendapatkan penolakan secara halus, dengan alasan pihak rumah sakit belum memiliki dokter spesialis.

“Ibu saya mengalami sakit sudah tiga bulan lebih dan mengalami kelumpuhan dibagian kaki, akhirnya kemarin( red senin), keluarga membawanya ke RS. Mery dari jam 3 sore sampai jam 5 sore saja. Pasien berada diruang UGD RS. Mery hanya dua jam saja berada disana, dengan alasan pihak rumahsakit belum memiliki dokter spesialis. Akhirnya pasien pulang kembali, tanpa diberikan rujukan ke rumah sakit lainnya,” ungkap salah seorang anak pasien, Bombom (35)

Lantaran kasian melihat kondisi yang sakit, kata dia, pihak keluarga mencari informasi keberadaan rumah sakit yang lengkap dokternya, tetapi hasil yang didapatkan, tambah dia, di RSUD Cileungsi pun tidak memiliki dokter spesial.

“Setelah musyawarah keluarga, Akhirnya ibu kami dibawa ke RS Thamrin, namun sama juga belum memiliki dokter spesialis saraf. Bahkan pihak rumah sakit hanya mampu merujuk pasien ke Polri di Kramat jati, ” terangnya.

Menyikapi pasilitas dan pelayanan BPJS kesehatan yang masih minim, direktur LSM Humanis M Nasir mendesak Pemkab Bogor agar menambah tenaga dokter spesialis agar pelayanan kesehatan BPJS kebih baik.

“Beberapa temuan di wilayah Bogor Timur pelayanan kesehatan ditingkat puskesmas hingga rumah sakit masih ditemukan belum dengan tenaga dokter yang cukup. Rata-rata mereka belum memiliki tenaga dokter spesialis,” katanya.

Akibatnya, lanjut dia, Kekurangan tenaga dokter spesialis ini juga berpengaruh pada penetapan kelas bagi rumah sakit yang bersangkutan.

Karena itu, kata dia, Pemkab Bogor harusnya fokus dalam kebijakan daerah khusus mengenai tenaga kesehatan yang lebih longgar dalam merekrut tenaga medis melalui APBD.

“Jadi dinas kesehatan kabupaten serta dinas pendidikan juga bisa gu nakan dana daerah saat membu tuhkan tenaga dokter. Ini bentuknya kebijakan yang lebih memberikan solusi dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya.(NSR/Red-1)

Related posts

Leave a Comment