Krui | Kabarindoraya.com

(Krui): Penggiat seni budaya adat istiadat di kabupaten pesisir barat, Lampung, berharap pemerintah daerah dan pusat dapat menganggarkan dana bantuan dalam upaya melestarikan adat budaya yang yang merupakan kearifan lokal.

Sehingga slogan pesisir barat sebagai, bumi para saibatin dan para ulama, bukan sebatas kata kata pencitraan saja namun memiliki wujud nyata dalam melestarikan membina dan mengembangkan adat budaya setempat

Ketua Sanggar Seni adat budaya Parda Ngangon di Pekon Gunungkemala Timur kecamatan Way Krui, Maulana, Minggu 10 oktober 2021, mengatakan pihaknya berharap perhatian pemerintah daerah maupun pusat dalam hal itu, sebab upaya yang mereka lakukan yaitu dalam melestarikan adat budaya setempat melalui pengajaran pengajaran dna penyelenggaraan kegiatan ditengah masyarakat , yang saat ini kondisinya stagnan atau jalan ditempat akibat keterbatasan. Apalagi ditambah pandemi covid19 yang masih terus terjadi.
“Kami berharap demikian ada bantuan alokasi penganggaran untuk kami. Kegiatan kami disanggar kami yaitu melaksanakan pengajaran pencak silat, tari pedang, tari pisau dua, tari kipas, bediker ,dan hadra. Saat ini jalan ditempat karena keterbatasan dana. Tetapi memang dari beberapa tahun lalu sampai sekarang, saya diminta oleh dewan guru seperti dari SDN Pekon Gunungkemala Timur dan MIN di Pekon Ulu Krui mengajar murid murid mereka pencak silat dan hadra. ya seperti itu saja. Dan ini saya kira merupakan hal positif pelajaran seni adat budaya lokal ditengah kemajuan teknologi luar biasa seperti main game dan main hp yang mungkin memiliki juga pengaruh negatif dalam perkembangan pendidikan anak anak,” kata Maulana.

Adat budaya lokal perlu dibina dan di lestarikan oleh pemerintah melalui para penggiat seni budaya, seperti sanggar seni parda ngangon, jangan sampai para penggiat seni budaya di kabupaten itu hanya di panggil dan ajak oleh pemerintah ketika dibutuhkan saja. Hal itu tidak berlebihan karena sesuai slogan pesisir barat merupakan negeri para saibatin dan ulama , maka penting melestarikan adat budaya lokal merujuk pada aturan agama dalam hal ini syariat Islam.
Senada dikatakan Sahpri, pengurus sanggar seni Parda Ngangon, sanggar seni itu kata dia telah mengoleksi prestasi menjadi juara kedua Hadra tingkat kabupaten pada tahun 2018 lalu, kemudian menjadi juara kedua tari kipas pada kegiatan yang diselenggarakan pemkab beberapa tahun lalu.
“Meskipun dengan keterbatasan kami terus berupaya berprestasi mengharumkan nama pesisir barat. Mungkin kalau ada perhatian pembinaan alokasi anggaran dari pemerintah , akan menjadikan potensi potensi yang ada lebih baik dan dapat menunjukan prestasi prestasi yang lebih untuk na baik daerah ini,” kata dia.

Namun saat hal ini dikonfirmasi kepada dinas pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kabupaten Pesisir Barat, pihak disdikbud yang notabene memiliki kewenangan dalam pembinaan dan penyaluran anggaran pelestarian pengembangan adat budaya terkesan tidak memiliki program terukur . dalam hal ini proaktif memiliki data rencana dan anggaran untuk mengangkat kearifan lokal adat budaya masyarakat setempat melalui sanggar sanggar seni adat budaya di kabupaten itu.

Plt kadisdikbud pesisir barat, Sudibyo, saat dihubungi mengatakan ia belum mengetahu ada atau tidaknya dana anggaran di bidang kebudayaan untuk pembinaan sanggar seni budaya di kabupaten itu.

Meskipun ada atau tidak anggaran itu, Pihak sanggar seni juga diminta membuat proposal kalau mau mendapat anggaran.

” saya tanya dulu dengan Kabid kebudayaan. Ada atau tidaknya (anggaran). Mereka sudah mengusulkan proposal gak tahun 2020 lalu? Kata Sudibyo.

(suwari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here