Bogor Raya BUMD Headline Nasional News Pemerintahan 

Kementrian PUPR, Minta PDAM Tirta Pakuan Pertahankan Predikat Terbaik Ke 2 se-Indonesia

97 Views

Bogor | Kabarindoraya.com

Direktur pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Direktorat Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian PUPR Yhuda Mediawan menilai PDAM Tirta Pakuan harus mempertahankan predikat PDAM terbaik kedua se-Indonesia dengan jumlah pelanggan diatas 10 ribu.

Namun, untuk pengembangan sistem dan pencapaian pelayanan 92 persen itu belum seluruhnya terlayani oleh jaringan perpipaan, tentu hal tersebut harus di kembangkan oleh PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor.

“Tentu ini harus di kembangkan dengan konsep 4 K yaitu kuantitas, kualitas, keterjangkauan (dilihat dari sisi harga) dan kontinuitas, sehingga air itu bisa mengalir sampai ke pelanggan,” ucap Yhuda pada acara Konsultasi Publik Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) 2019-2039 Dan Temu Pelanggan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor di IPB IICC, Botani Square, Kota Bogor, Rabu (13/11/2019).

 

Lebih lanjut, Yudha menjelaskan bahwa Kementeian PUPR dan Dirjen Cipta Karya akan mensuport pengembangan PDAM Tirta Pakuan.

 

“Jadi ada dalam bentuk bantuan program dari APBN, bisa dari hibah, hibah ini artinya dari PDAM dibuat dulu kemudian nanti uangnya di ganti dalam bentuk transfer hibah, atau juga kita dorong kedepan kerjasam kerjasama dengan badan usaha atau swasta,” jelasnya.

Ia juga mengatakan jika kolaborasi antara kementrian PUPR dan Dirjen Cipta Karya sudah sering dilakukan dalam pengembangan PDAM di Seluruh Indonesia, oleh karena itu pihaknya tidak hanya fokus kepada profit orientasi, tetapi juga bagaimana menentukan pelayanan bagi masyarakat.

“jangan sampai masyarakat kecewa, misalnya air tidak mengalir kerumah pelanggan atau kualitas tidak sesuai dengan harga yang dia bayar,” katanya.

Sementara, Kepala Pusat Air Tanah Air Baku Dirjen Sumber Daya Air Iriandi Aswartika menuturkan bahwa pihaknya itu hanya menyediakan air baku atau mencari air yang kemudian dibawa ke reservoir. Selain itu dilihat juga dari segi permintaannya yang kemudian disesuaikan dengan penyediaan air.

“Seberapa besar air baku yang ada, yang harus kita identifikasi kemudian kita investasikan sejauh mana air baku ini bisa kita dorong kita manfaatkan agar bisa menjadi air bersih kemudian menjadi air minum,” pungkasnya.

(Gie)

Related posts

Leave a Comment

%d blogger menyukai ini: