Oleh : Siti Susanti, S.Pd.

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) kembali dibuka. Sebagian menyambut gembira bisa bertemu dengan guru terutama teman di sekolah. Meski, masih terselip rasa cemas terpapar COVID-19. Namun, delapan belas purnama terasa lebih dari cukup menjalani belajar dari rumah/daring.

Di Jawa Barat sendiri, PTM termasuk Kota Bandung sudah dimulai hari Rabu, 8 September lalu. Terdapat enam wilayah dengan katagori level dua yang disebut siap PTM terbatas dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. (Medcom.id, 1/9/2021)

Perlu ditekankan, pandemi Covid-19 belum lagi tuntas. Bahkan, tidak ada yang mengetahui kapan akan berakhir. Maka wajar, para ahli epidemi sangat mewanti-wanti untuk menjalankan prokes ketat 5M tidak hanya di lingkungan sekolah, namun juga ketika berada di luar sekolah bagi seluruh pihak.

Kita semua berharap, kebijakan PTM ini tidak mengantarkan kepada lonjakan kasus COVID-19 kembali.

Namun sebagaimana kita saksikan, berlarutnya pandemi membuat sebagian masyarakat ogah-ogahan menjalani prokes. Efeknya tentu saja, peluang terpapar virus semakin besar.

Belajar adalah kebutuhan asasi karena menyangkut masa depan pribadi maupun bangsa. Namun, penanganan virus seharusnya menjadi perhatian utama, karena ini menyangkut urusan nyawa.

Berbagai solusi yang telah diberlakukan terbukti tidak efektif menyudahi pandemi, terkesan tidak serius dan setengah hati. Akibatnya, pandemi berlarut.

Solusi Islam Menangani Pandemi

Bercermin kepada kesuksesan langkah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menangani wabah Amwas dan Khalifah Umar Bin Khattab dalam menangani wabah thaun, karantina adalah kuncinya, sebagaimana digariskan dalam hadits Nabi SAW :
” Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Kegiatan bekerja, berkarya, termasuk belajar mengajar bisa diselenggarakan secara normal sebagaimana aktivitas yang lain pada daerah-daerah yang tidak terdapat wabah.

Adapun daerah-daerah yang diberlakukan karantina karena terdapat wabah, kegiatan belajar mengajar bisa tetap dilaksanakan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Tuntunan Belajar dalam Islam

Metode belajar adalah dengan talqiyyan fikriyyan, yaitu memberikan pemikiran yang membentuk pemahaman, bukan sekedar memberikan materi /teori untuk dihafalkan.

Adapun tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian Islam, yakni pola pikir serta pola sikap yang Islami. Sehingga harus dijauhkan dari memberikan teori yang tidak mendorong siswa untuk beramal.

Maka, tatap muka dengan guru harus ditempuh meski melalui perantaraan teknologi, agar metode dan tujuan belajar dapat tercapai.

Oleh karena itu, penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung seperti ketersediaan gawai, jaringan sinyal yang baik, hingga pembekalan ilmu bagi tenaga pendidik sampai mahir mengaplikasikan teknologi, mutlak diperlukan

Dan yang tidak kalah penting, perlindungan dari konten-konten yang merusak seperti pornografi, atau games yang dapat melalaikan, harus ketat dilakukan.

Ini semua terkait dengan peran negara yang dituntun Islam, sebagaimana hadits Nabi SAW :

” Imam (kepala negara) adalah ra’in (pengelola urusan rakyat) dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusannya. ”

Para ulama menjelaskan, mengelola urusan rakyat yaitu dengan memenuhi kebutuhan mereka. Dalam hal ini, adalah terkait pendidikan mereka.

Adapun pendanaan pengelolaan urusan rakyat adalah juga termasuk tanggung jawab negara. Sumbernya diantaranya berasal dari pengelolaan sumber daya alam. Kemampuan pendanaan ini bukan sesuatu yang mustahil, mengingat kekayaan alam kita yang melimpah.

Dengan demikian, jika semua aspek ini dijalankan, pandemi akan dapat dituntaskan. Anak-anak pun akan terhindar dari learning loss yang mengkhawatirkan.

* Pengajar Asy-Syifa Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here