Bogor Kabarindoraya.com- Setelah Pilkada serentak,  tahun depan Indonesia akan mengikuti kembali Pileg dan Pilpres 2019.Pemilu pada era sekarang ini dilaksanakan secara serentak. Salah satu yang sangat berpengaruh dalam jalannya pilkada adalah pihak media.

Untuk itu, Lembaga Studi Informasi Stategis Indonesia (LSISI) menggelar focus group discussion bertajuk Fungsi dan Peran Media pada Pilkada dan Pilpres 2019 di Bogor, Senin besok.

Narasumber yang dihadirkan merupakan pihak-pihak yang berkompeten, yakni Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bogor Haryanto Surbakti, pengamat politik dari Universitas Djuanda Bogor Beddy Iriawan, dan Danang Donoroso mewakili media dan paguyuban wartawan Bogor.

Melalui diskusi yang diadakan, ketua penyelenggara Irvani Ramadhan berharap media bisa memberikan kontribusi positif pada pemilu yang akan dihelat sebentar lagi. Persiapan demi persiapan dimatangkan demi menghadapi pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan serentak dengan pemilihan umum anggota legislatif

“Tegaknya demokrasi tergantung juga dengan peran media yang konstruktif. Dia menjelaskan media memiliki peran besar untuk mencerdaskan masyarakat dan tidak mudah terprovokasi,” papar Irvani, Minggu (29/7).

Kata dia, ketahui bahwa banyak media, khususnya media online yang selain memberitakan hal-hal positif, tetapi tidak jarang juga memberikan hoax, black campaign, negatif campaign.

Dia menyarankan agar media tidak mengedepankan isu-isu SARA melainkan lebih banyak menulis tentang visi misi dan program dari calon kepala daerah maupun calon DPR, DPD, DPRD, calon presiden dan wakil presiden.

Irvani melihat media massa telah menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol terhadap pemerintah dan penyelenggara pilkada, dengan demikian pemilihan kepala daerah berlangsung secara transparan, sah, dan kredibel di mata hukum. Media massa sangat membantu dalam proses sosialisasi pilkada dan ikut menyukseskannya.

Kemampuan media massa memasuki ruang khalayak sangat potensial, di samping itu juga mampu membentuk atau memengaruhi persepsi lebih jauh pada diri khalayak, yang mana seseorang tampak lebih baik ketika dia dibingkai oleh media penyiaran itu, sehingga orang yang mendengarkan akan mempersepsikan bahwa orang itu menjadi baik.

“Persepsi lain, jika media penyiaran mempunyai kemampuan menceritakan lebih jelek pada kondisi kenyataannya, maka ketika orang mengkonsumsi media penyiaran atas informasi itu, juga akan menilai seseorang itu lebih jelek,” katanya.

Untuk itu, ia pun mengharapakan pada diskusi yang diikuti sekitar lima puluh pewarta dan bidang redaksional dapat memberikan gambaran dan memantapkan kembali media masa pada fungsi yanh sesunguhnya.(Wan/Nik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here