Catatan :  Ace Sumanta

PAJAJARAN TILAS SILIWANGI

Pajajaran Tilas Siliwangi
wawangina kasilih jenengan
kiwari dayeuhna Bogor
batu tulis nu kantun
kantun liwung jaradi pikir
mikir tulisanana
henteu surud liwung
teuteuleuman kokojayan
di Ciliwung nunjang ngidul, Siliwangi
nuus di Pamoyanan.

(Etje Madjid/Kalipah Apo)
dalam buku Sejarah Bogor tulisan Saleh Danasasmita
Tahun 2012: xxi

Puisi tersebut di atas sengaja saya tampilkan agar kita tak boleh melupakan pada apa yang pernah terjadi. Mengutip bahasa Bung Karno “jangan lupakan sejarah”. Banyak hal yang harus digali di negeri ini, khususnya wilayah Pakuan Pajajaran.
Kepedulian kita dalam mengungkap fakta adalah sama dengan menggali jati diri. Bahasan di Group Tepas Buitenzorg adalah suatu pemikiran yang amat berarti, selain mencari, meneliti dan menggali serta mengimplementasikan hal yang pernah ada di negeri Pakuan. Itulah tersirat dalam prasasti Batu Tulis khusususnya kata “Samida”. Misteri kata yang mempunyai banyak konotasi patut kita soroti, patut kita ungkap dan patut kita uji. Prof. Dr. Hj. Nina Lubis, MS sejarahwan dan guru besar Univ. Pajajaran Bandung bertanya ke saya saat pertemuan di Balai Kota Bogor;

“Kang, apakah ada fosilnya Samida?” Pertanyaan itu harus terus digali. Tentu saja bukan hanya tugas pak Usep Soetisna sebagai ilmuan, juga buka hanya saya sebagai budayawan, disini perlu sinergitas dalam menggali sesuatu yakni para sejarawan dan arkeolog juga. Tentu banyak ilmuan yang bisa dilibatkan, saya berkeyakinan akan segera terungkap sebagai fakta sejarah bukan hanya “kata mistik terjadi”.

Secara etimologi Samida dalam baris ke-7 Prasasti Batu Tulis berasal dari bahasa Sangsekerta yakni, “Samvida” yang mengandung arti kesepakatan atau agreement. Jika menilik fakta sejarah pada saat itu ketika Prabu Surawisesa atau Ratu Sangiang (1521-1535 M).

Batu Tulis terletak di Kelurahan Batu Tulis Kec. Bogor Selatan Kota Bogor. Secara geografis terletak pada koordinat 06⁰ 37 ‘ 25″ LS dan 106⁰ 48’ 32″ BT m².
Berita tertulis menyatakan temuan Prasasti Batu Tulis pada hari, Senin, 28 Juli 1687, dinyatakan dalam laporan ekspedisi VOC ( Vereenigde Oost Indiache Compagnie)/Persatuan Dagang Hindia Timur dipimpin oleh Scipio. Kemudian prasasti ini diteliti oleh para ahli diantaranya Friedrich (1853), J. Noorduyn (1859) K.E. Holle (1877), C.M. Pleyte (1911), R.Ng. Poerbatjaraka (1921), Saleh Danasasmita (1981-1984) kini digali kembali secara etimologis dan morfologi tumbuhan oleh Usep Soetisna (2019—).

Sangat berbahagia sekaligus terharu juga terasa miris masih terjadi perdebatan panjang soal eksistensi Samida. Banyak orang menafsirkan secara bebas; hutan samida, hutan larangan, keboen radja, bahkan ada yang menyebut tempat untuk bersemadi.
Sah-sah saja jika dilandasi dengan hasil kajian dan penelitian ilmiah berdasar fakta-fakta. Sorotan secara tekstual yang ada di Batu Tulis terdiri dari 9 kalimat. Sedangkan kata Samida ada di baris ke 7. Lengkapnya penulis salin yakni:

“wang na pun ini sakakala, prabu ratu purane pun diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana
diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang dewa niskala sa (ng) sidamokta digunatiga, i (n)cu rahyang niskala wastu.
ka(n) cana sa(ng) sida mokta kanusa larang, ya siya nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sanghyang talaga rena maha wijaya, ya siya oo i saka, panca pandawa e(m) ban bumi.

Artinya:
“Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (bagi), Prabu Ratu almarhum yang dinobatkan, ia bergelar Prabu Guru Dewataprana dinobatkan pula dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, Sri Ratu Dewata penguasa di Pakuan, ia anak Rahyang Dewa Niskala yang telap wafat (dipusarakan) di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana yang telah wafat (dipusarakan) ke Nusa Larang. Ialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan (jalan ) dengan batu, membuat hutan samida, membuat sanghiyang talaga Rena Maha Wijaya, ya dialah (yang membuatnya). (ditulis) dalam tahun Saka lima pandawa pangasuh bumi (yang berarti pada tahun 1455)”.
Pada tahun 1533, Maharaja Surawisesa mangkat dalam usia 90 tahun, jenazahnya dipusarakan di Padaraen hingga ia mendapat sebutan Sanglumahing Padaraen. Sebagai penggantinya secara adat tradisional putra mahkota berikutnya.

Teks Pradasti Batu Tulis digoreskan pada sebuah monolit, dari batu andesit berwarna abu-abu kehitaman tentu berbentuk segi tiga pipih menyerupai gunungan dengan huruf Jawa Kuna dan Bahasa Sunda Kuna.

Torehan atau huruf yang digoreskan adalah bahan renungan terutama bagi orang (bangsa) Sunda.
Prasasti tersebut dibuat “sasakala” atau “tanda peringatan” memperingati 12 tahun (1533) wafatnya Sri Baduga Maharaja yang berkuasa selama 39 tahun (1482– 1521 M).***

(Penulis adalah peneliti Pusaka Pakuan.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here