Ramadhan Sarana Dalam Menumbuhkan Semangat Reformasi Sosial

0
603

Oleh :

Moh. Hairud Tijani, Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung. Alumnus PP. Annuqayah Madura Jawa Timur.

 

 

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa bagi umat islam, di mana umatnya wajib berpuasa di bulan yang mulia ini dan menjaga kerukunan antar umat dan bangsa, bahkan di bulan ini Allah melipatgandakan pahala kebajikan bagi yang melakukannya.

 

Ramadhan adalah bulan suci. Tentu sesuatu yang tidak ada di bulan-bulan lainnya. Banyak sekali hikmah dan keutamaan di bulan Ramadhan yang harus kita ketahui di antaranya :

 

1.Meningkatkan Taqwa 2. Melatih sabar dan syahwat 3. Meningkatkan gotong royong 4. Melatih disiplin dan tanggung jawab 5. Mengajarkan rasa saling menghargai dan empati terhadap sesama 6. Pintu surga terbuka dan pintu neraka tertutup 7. Suasana bulan puasa lebih agamais dan tenteram dibanding bulan-bulan lainnya, dan begitu banyak berkat masa depan untuk dipilih.

 

Untuk para teman-teman akademisi mahasiswa mungkin kita perlu istirahat dari protes di bulan Ramadhan ini agar kita bisa memikirkan apa yang harus dilakukan di bulan suci ini selain kritik dan demonstrasi. Sebagai pendukung bangsa, kita harus melakukan pengabdian kepada masyarakat untuk mendidik tentang hal-hal positif dan menggerakkan ke arah yang lebih baik.

 

Oleh karena itu diperlukan usaha untuk mengedukasi masyarakat, karena puasa merupakan salah satu cara yang paling utama untuk mencapai ketakwaan dan salah satu sebab untuk memperoleh ampunan dosa, menambah kebaikan dan menambah derajat. Allah Swt, membedakan puasa dengan ibadah lainnya. Terlepas dari berbagai isu politik, penundaan pemilu, perpu tentang cipta kerja hingga skandal dana kementerian Keuangan.

 

Bulan puasa selalu mengandung semangat bentuk reformasi birokrasi dan reformasi sosial. Karena puasa melatih mengendalikan dan menguasai diri dari segala godaan syahwat dengan selalu berpegang pada ajaran Allah dan Rasulnya, Inilah sebenarnya hubungan antara makna bulan ramadhan dan tujuan puasa. Dengan menerapkan konsep yang memadukan antara kepentingan pribadi dalam menunjang kemaslahatan bersama sehingga menimbulkan kegiatan yang mencerdaskan bangsa.

 

Kegiatan positif pertama, yang bisa dilakukan di bulan Ramadhan adalah Safari Ramadhan, yang bisa dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat. Tujuannya adalah sebagai alat untuk menyosialisasikan program-program pembangunan yang telah dilaksanakan. Selain itu, Safari Ramadhan juga menjadi ajang untuk mendapatkan saran dan masukan dari masyarakat serta mendengar permasalahan masyarakat untuk dicarikan solusinya.

 

Kedua, melihat kajian online, perkembangan teknologi yang semakin maju telah membawa perubahan dan perbaikan di segala bidang. Termasuk di bagian religi salah satunya adalah khotbah, dimana kita sekarang bisa melihat dan mendengar kajian para ulama secara online. Mendengarkan langsung ceramahnya pasti akan memberikan pahala, seperti halnya mengaji di bulan Ramadhan. Namun, jika anda tidak memiliki waktu untuk mengikuti survei secara langsung, Anda dapat mengikuti survei secara online melalui Zoom atau menonton melalui Youtube.

 

Ketiga, kegiatan ramadhan pondok pesantren kilat dilakukan di sekolah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk berpuasa dalam suasana yang tenang, menyenangkan dan bermanfaat. Pesantren kilat dapat membuat anak berpuasa dengan benar, mendapatkan banyak informasi agama dan budi pekerti, serta menghindari hal-hal yang kurang bermanfaat seperti bermain gadget atau menonton televisi.

Berapa banyak orang yang memiliki gagasan tentang bagaimana orang lain harus berubah, tetapi sangat sedikit gagasan tentang bagaimana mereka harus berubah.

 

Sesungguhnya melalui ibadah puasa ini, Allah Swt mengizinkan kita melakukan reformasi diri, yang kemudian selanjutnya reformasi birokrasi dan akhirnya melahirkan perubahan sosial. Pembaharuan rohani dalam puasa adalah nilai disiplin dan tanggung jawab. Setelah puasa selesai, bukan hanya derajat ketakwaan yang kita terima dan peroleh, tetapi puasa juga berdampak pada reformasi birokrasi dan reformasi sosial, yaitu kita bisa lebih disiplin dan bertanggung jawab dalam bekerja dan hidup. Jadi puasa kita tidak hanya berhenti pada aspek ritual dan spiritual, tetapi juga bertujuan untuk mempengaruhi perubahan birokrasi dan masyarakat menjadi lebih baik.

 

Justru itu kita harus mempererat persatuan dan kesatuan untuk menjaga keutuhan bangsa dengan berbagai cara, yang bisa dilakukan di bulan kebaikan ini dan saling introspeksi. Tentu saja memahami persatuan umat membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dan tentunya perjuangan ini dicontohkan oleh para ulama terdahulu, khususnya ulama Indonesia. Di antara para ulama yang aktif dan bergelut di lingkungannya. Akan menarik bagi kita untuk meneladani para generasi Old yang terus berjuang mengangkat Firman Allah Swt.

 

Bagi para pejabat (ASN) dan birokrasi, momentum Ramadhan ini dapat meningkatkan kinerja produksi dan kontribusi bagi bangsa dan negara, sehingga diperlukan kebijakan yang lebih manusiawi dan sehat. Adat dan sistem sosial kita sebenarnya cukup mendukung ijtihad ini. Kita hanya perlu meningkatkan kesadaran dan mengomunikasikan konsekuensi positif dari penerapan hal-hal mulia ini secara konsisten.

 

Sebagai kesimpulan, pesan akhir penulis bahwasanya meskipun persaingan untuk mencapai kesuksesan penting untuk mengoptimalkan antusiasme, prosedur kekeluargaan dan moral lebih mampu memastikan kinerja perkembangan yang lebih baik dan lebih bertahan lama. Semoga setelah Ramadhan dan Idul Fitri 1444 H, kali ini kita benar-benar bisa kembali menjadi warga negara yang dapat diajak bergotong royong dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan.

 

Amin ya Rabbal Alamin

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini