Oleh: Isson Khaerul

Tampang Neta S. Pane sama sekali tidak sangar. Tapi, kalau sudah mengritik Polisi, ia lebih beringas dari singa lapar. Dalam kasus Joko Tjandra, misalnya. Ia meyakini, ada persekongkolan jahat dari sejumlah oknum Polisi dan pejabat terkait, untuk melindungi Joko Tjandra.

Pilihan untuk Awasi Kinerja Polisi

Karena itulah, Neta S. Pane yakin, kasus Joko Tjandra hanya bisa dibuka dalam artian sebenarnya, jika Presiden Joko Widodo turun tangan untuk membersihkan Polri. Antara lain, dengan cara membentuk Tim Pencari Fakta Joko Tjandra. Di hari-hari ini, kita menyaksikan, kasus Joko Tjandra terus bergulir. Sejumlah pejabat Kepolisian, telah diperiksa, beberapa di antaranya sudah dicopot dari jabatan mereka.

Kenapa Neta S. Pane begitu getol mengawasi serta mengritik kinerja Polisi? Itu memang pilihannya, sejak ia mendirikan Indonesia Police Watch (IPW) pada akhir 1998, setelah tumbangnya kekuasaan Presiden Soeharto pada Mei 1998. Bersama 14 rekannya dari kalangan wartawan, Neta S. Pane mengibarkan bendera IPW. Sejak itu, ia sudah memancangkan diri, menjadi pihak yang mengawasi kinerja aparat Kepolisian Republik Indonesia.

Kita tahu, salah satu tugas Kepolisian adalah mengawasi aktivitas masyarakat, untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika ada warga yang melanggar aturan, maka aparat Kepolisian adalah pihak yang berada di lini terdepan, untuk menegakkan aturan. Dengan kata lain, aparat Kepolisian bertugas melindungi warga serta mengamankan warga, agar leluasa menjalankan aktivitas mereka.

Gilanya, Neta S. Pane memilih diri untuk menjadi pengawas para “pengawas warga” tersebut. Boleh jadi, Indonesia Police Watch (IPW) bukanlah satu-satunya lembaga yang memilih posisi demikian. Tapi, seingat saya, belum ada lembaga sekelas dan sekeras IPW, yang secara terang-terangan mengawasi kinerja aparat Kepolisian Republik Indonesia.

Wartawan di Kepolisian sejak 1983

Secara sikap, pilihan Neta S. Pane tersebut, bukanlah sesuatu yang ujug-ujug. Sebagai wartawan, sejak tahun 1983, ia intens melakukan peliputan di ruang lingkup Kepolisian. Ia paham cara kerja Polisi, secara perorangan maupun secara kelembagaan. Yang ia pahami, bukan hanya yang tampak di permukaan, tapi juga beragam realitas “di balik layar” Kepolisian Republik Indonesia.

Karena itulah, dalam kasus Joko Tjandra misalnya, Neta S. Pane menyoroti serta mengritik persekongkolan jahat dari sejumlah oknum Polisi dan pejabat terkait, di kasus tersebut. Tak hanya sampai di situ. Neta S. Pane juga mendesak Presiden Joko Widodo membentuk Tim Pencari Fakta Joko Tjandra. Artinya, dibutuhkan “keseriusan yang lebih” untuk membongkar gurita persekongkolan jahat, agar kasus kelas kakap itu benar-benar tuntas.

Apakah Neta S. Pane menjadikan berbagai kasus di Kepolisian, untuk meraih panggung politik? Ini pertanyaan yang menggelitik. Sejauh pencermatan saya, saya belum menemukan indikasi demikian. Setahu saya, Neta S. Pane secara personal dan Indonesia Police Watch (IPW) sebagai institusi, tidak berafiliasi dengan gerakan politik praktis.

Bahkan, sejak 10 tahun lalu, Indonesia Police Watch (IPW) hanya bermarkas di sebuah bangunan sangat sederhana di Jalan Daksinapati, Rawamangun, Jakarta Timur. Saking sangat sederhana, tempat itu lebih dikenal sebagai Kandang Ayam. Bukan office building, bukan plaza, dan bukan pula tower. Indonesia Police Watch (IPW) hanya numpang di sana. Numpang dalam artian sesungguhnya.

Bahkan, ketika Neta S. Pane berulang tahun pada Selasa (18/08/2020) lalu, itu pun ulang tahun tumpangan. Pada Selasa itu, Mbah Cocomeo Cacamarica alias Yosef Erwiyantoro selaku tetua Kandang Ayam, bikin reuni dengan beberapa mantan wartawan koran Suara Merdeka. Karena waktunya bersamaan, ya ulang tahun Neta S. Pane ditumpangkan di reuni tersebut. Ia lahir di Medan, pada Selasa (18/08/1964).

Mbah Cocomeo Cacamarica selaku tetua Kandang Ayam, adalah sosok yang dihormati oleh Neta S. Pane. Berkat budi baik Mbah Coco pula, Indonesia Police Watch (IPW) bisa numpang markas di sana. Dan, sudah dua kali Mbah Coco menjadi inisiator untuk ulang tahun Neta S. Pane. Pada Selasa (18/08/2020) lalu itu, Neta S. Pane berkali-kali mengucapkan terima kasih, dengan penuh rasa haru.

Turun, Tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Polisi

Bagi saya, perjalanan Neta S. Pane dan Indonesia Police Watch (IPW) adalah rekam jejak idealisme anak bangsa. Neta S. Pane bersama sejumlah rekannya, dengan sepenuh jiwa-raga, telah menjadi bagian dari upaya untuk membersihkan Kepolisian Republik Indonesia, dari para oknum yang mengotori kemuliaan lembaga pelindung warga tersebut.

Upaya itu patut kita apresiasi, agar tingkat kepercayaan publik terhadap Kepolisian Republik Indonesia, kembali meningkat. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, mencatat, tingkat kepercayaan warga terhadap Polri tahun 2019 berada di angka 72,1 persen. Padahal, tahun 2018, tingkat kepercayaan warga mencapai angka 87,8 persen. Turun drastis, hingga belasan persen.

Hal serupa juga tercermin dari hasil Survei Litbang Kompas tahun 2019, yang menemukan tingkat kepuasan warga terhadap kinerja Polri di angka 70,8 persen. Padahal, tahun 2018, mencapai angka 82,9 persen. Artinya, kinerja Kepolisian Republik Indonesia, berdasarkan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas, sama-sama menunjukkan penurunan.

Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengapresiasi upaya Neta S. Pane dan Indonesia Police Watch (IPW). Bukankah Kepolisian Republik Indonesia adalah tumpuan harapan warga untuk mendapatkan perlindungan?***

(Penulis adalah Ketua Dewan Etik SWI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here