Kabarindoraya.com  | Jakarta  – Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menguliti habis terhadap wacana "Koalisi Permanen" yang digulirkan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia. Denny menilai narasi tersebut bukanlah sebuah visi kenegaraan yang futuristik, melainkan sebuah "ide licik" yang lahir dari kecemasan eksistensial partai yang tak mampu hidup di luar lingkaran kekuasaan.

​"Secara klinis, ini adalah bentuk defense mechanism dari entitas yang tidak memiliki DNA untuk menjadi oposisi. Ini bukan tentang stabilitas bangsa, melainkan 'Fobia Berada di Luar Istana'," ujar Denny Charter dalam keterangan tertulisnya, Senin (12/1).

Analisis Psikologi Kekuasaan: Loss Aversion

​Denny membedah fenomena ini menggunakan pendekatan psikologi perilaku Loss Aversion yang dikembangkan Daniel Kahneman. Menurutnya, Golkar yang lahir dari rahim Orde Baru memiliki struktur seluler politik yang hanya bisa hidup jika dialiri "nutrisi" kekuasaan berupa akses APBN dan jabatan.

​"Bagi Golkar, dan mungkin secara spesifik bagi Bahlil, menjadi oposisi adalah 'kematian'. Usulan koalisi permanen adalah upaya membekukan status quo agar mereka tidak perlu menghadapi ketidakpastian kompetisi di masa depan," tegasnya.

Ilusi Teoretis dan Jejak Oportunisme

​Dari perspektif Ilmu Politik, Denny menyebut istilah "Koalisi Permanen" sebagai sebuah oxymoron atau pertentangan makna. Ia mengutip aksioma realisme politik Lord Palmerston bahwa dalam politik tidak ada sekutu abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi.

​Ia pun mengingatkan publik pada memori kelam tahun 2014 melalui fenomena Koalisi Merah Putih (KMP). Saat itu, retorika koalisi permanen didengungkan untuk menguasai parlemen dan menandingi pemerintahan Jokowi-JK. Namun, sejarah mencatat Golkar melakukan manuver "balik badan" yang spektakuler begitu menyadari bahwa berada di luar pemerintahan berarti kering logistik.

​"Sejarah adalah hakim yang paling kejam. Kita tidak boleh amnesia. Begitu menyadari berada di luar pemerintahan itu 'dingin', mereka menjadi