Kabarindoraya.com  | Jakarta 20 Desember 2025 – Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai pengirim jamaah haji terbesar di dunia. Namun ironisnya, Indonesia selalu menjadi “penyewa” abadi di Tanah Suci. Menanggapi hal ini, rencana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk membeli hotel dan lahan seluas 4,4 hektare di Mekkah dinilai menjadi angin segar bagi calon jamaah haji.


Langkah tersebut dinilai bukan sekadar gaya-gayaan investasi, melainkan strategi jitu untuk menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap makelar hotel di Arab Saudi.

Putus Rantai Tengkulak Akomodasi

Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Egi Hendrawan, menyebut langkah Danantara sebagai gerakan “menjemput kedaulatan”. Menurutnya, persoalan utama mahalnya biaya haji setiap tahun selalu bermuara pada tingginya harga sewa gedung di Mekkah.

“Kalau kita punya hotel dan lahan sendiri, kita punya harga tetap. Tidak perlu lagi pusing tawar-menawar dengan pemilik gedung di sana yang harganya naik tiap musim. Ini cara paling masuk akal untuk membuat biaya haji lebih murah dan stabil,” kata Egi saat dihubungi, Sabtu (21/12).

Kampung Haji: Dari Kita untuk Kita

Berbeda dengan sekadar penginapan biasa, konsep Kampung Haji yang diusung Danantara akan berfungsi layaknya “Indonesia Kecil” di Mekkah. Egi menekankan keunikan proyek ini yang tidak dimiliki oleh skema sebelumnya.

Pertama, Dapur Indonesia, di mana katering jamaah tidak lagi bergantung penuh pada vendor asing, sehingga rasa dan kualitas makanan lebih terjaga sesuai lidah Nusantara.

Kedua, Pasar UMKM, yang memungkinkan produk-produk lokal seperti kopi, beras, hingga bumbu masak asal Indonesia masuk langsung ke dalam ekosistem Kampung Haji.