Kabarindoraya.com | Jakarta, – Dalam panggung politik nasional, nama I Gede Pasek Suardika (GPS) bukanlah sosok baru. Pria kelahiran Singaraja, Bali, 21 Juli 1969 ini dikenal sebagai petarung politik yang memiliki rekam jejak panjang, mulai dari ruang sidang sebagai advokat, gedung parlemen di Senayan, hingga kini menjadi motor penggerak Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).
Perjalanan kariernya adalah refleksi dari kegigihan seorang putra daerah yang mampu membaca arah angin politik nasional dengan jeli.
Jejak Awal: Antara Jurnalisme dan Hukum
Sebelum terjun ke dunia politik praktis, Pasek membangun fondasi intelektualnya di bidang hukum. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini sempat mencicipi dunia jurnalistik, sebuah profesi yang mengasah kemampuannya dalam berkomunikasi dan membangun narasi publik.
Kombinasi antara ketajaman hukum dan kelihaian berkomunikasi menjadikannya sosok yang menonjol saat memulai karier di Bali. Ia tercatat pernah menjabat sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali, di mana ia mulai memahami seluk-beluk sistem elektoral Indonesia secara mendalam.
Era Emas di Demokrat dan Senayan
Nama Pasek Suardika melambung tinggi saat ia bergabung dengan Partai Demokrat. Di bawah bendera partai berlambang bintang mercy tersebut, ia berhasil melenggang ke DPR RI periode 2009-2014.
• Ketua Komisi III: Di Senayan, Pasek dipercaya memimpin Komisi III yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan. Ini adalah posisi strategis yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pakar hukum politik di Indonesia.
• Senator Bali: Setelah masa jabatannya di DPR selesai, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mewakili Provinsi Bali (2014-2019). Di sini, ia dikenal vokal menyuarakan aspirasi masyarakat Bali di tingkat pusat.

.png)