Kabarindoraya.com | Solo - Gelar Dauroh Ilmu Aqidah Aswaja, Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Solo Hadirkan Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas, Pimpinan Universitas Al Wasathiyah Yaman Solo Rabu [24/12]

Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, Surakarta, kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan tradisi keilmuan Islam dengan menyelenggarakan Dauroh Ilmu Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Kegiatan ilmiah bertaraf internasional ini menghadirkan dua tokoh ulama dan akademisi terkemuka dari Yaman, yakni Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas, yang saat ini mengemban amanah sebagai pimpinan Universitas Al Wasathiyah.

Dauroh yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh para santri dan asatidz dengan penuh antusias. Kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari ikhtiar sistematis pesantren dalam memperkuat fondasi teologis sekaligus membentuk etika keislaman yang kokoh di tengah tantangan pemikiran dan ideologi global. Antusiasme peserta mencerminkan tingginya kesadaran akan pentingnya ilmu aqidah sebagai basis utama pembentukan karakter dan orientasi hidup santri.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua Pondok, Ustadz Hadziq Maftuh, yang menegaskan bahwa aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah merupakan kerangka teologis yang menopang prinsip wasathiyyah atau moderasi dalam beragama. Menurutnya, manhaj Aswaja menghadirkan keseimbangan epistemologis antara naql (teks wahyu) dan ‘aql (rasionalitas), sekaligus menjaga kesinambungan tradisi intelektual Islam yang otoritatif. Ia menekankan bahwa dalam konteks dinamika pemikiran kontemporer, aqidah Aswaja menjadi jangkar penting agar umat tetap berada di jalur keilmuan yang lurus dan bertanggung jawab.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Yayasan, Ustadz Wassim Ahmad Fahruddin, yang menegaskan komitmen institusional yayasan dalam mengembangkan pesantren sebagai ruang formasi intelektual dan moral. Menurutnya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sebagai benteng normatif umat dalam menghadapi berbagai bentuk distorsi aqidah, krisis identitas keagamaan, serta degradasi etika di tengah masyarakat modern.

Selanjutnya, Pengasuh Pondok Pesantren, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, dalam sambutannya menegaskan bahwa dauroh ini merupakan bagian dari ikhtiar strategis kaderisasi ulama dalam rangka mengokohkan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah yang berakar kuat pada sanad ulama salaf. Beliau menjelaskan bahwa tradisi tersebut terformulasi dalam khazanah turats klasik melalui karya-karya otoritatif seperti Jawharat al-Tawḥīd karya Imam al-Laqqānī, Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī, serta integrasi dimensi etika dan spiritual dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Imam al-Ghazālī.

Menurut beliau, manhaj Aswaja sebagaimana dirawat dalam tradisi Nahdlatul Ulama meniscayakan penguatan aqidah pada garis teologis Imam Abu al-Hasan al-Asy‘ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi, yang dipadukan secara harmonis dengan pembentukan akhlak Qur’ani dan praksis tasawuf sunni. Dengan kerangka tersebut, ilmu aqidah tidak berhenti pada tataran kognitif-doktrinal, tetapi bertransformasi menjadi etos kepribadian santri dan praksis sosial-keagamaan yang mencerminkan nilai moderasi (tawassuṭ), keseimbangan (tawāzun), toleransi (tasāmuḥ), dan keadilan (i‘tidāl), serta berorientasi pada kemaslahatan umat.

Memasuki sesi utama, Dr. Mazen Musawa dan Syekh Abdurraqeb Al Attas menguraikan secara komprehensif urgensi aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai fondasi teologis umat Islam yang menjaga keseimbangan antara nash syar‘i, rasionalitas (‘aql), dan konteks sosial-historis (wāqi‘). Keduanya menjelaskan bahwa manhaj Aswaja yang diwariskan oleh Imam al-Asy‘ari dan al-Maturidi merupakan kerangka epistemologis yang kokoh dalam menjaga kemurnian tauhid, sekaligus adaptif dalam merespons tantangan intelektual dan ideologis modern.

Dalam pemaparan ilmiahnya, para narasumber merujuk pada kitab-kitab turats otoritatif seperti Sharḥ al-‘Aqā’id al-Nasafiyyah, Umm al-Barāhīn karya Imam al-Sanūsī, serta Jawharat al-Tawḥīd karya Imam al-Laqqānī sebagai fondasi utama konstruksi teologi Aswaja. Menurut mereka, karya-karya tersebut tidak hanya menyajikan kerangka doktrinal tauhid, tetapi juga membentuk tradisi intelektual Islam yang sistematis, argumentatif, dan berakar kuat pada sanad keilmuan para ulama lintas generasi.