Kabarindoraya.com | Jakarta - Ketua Dewan Pers periode 2025–2028, Komaruddin Hidayat, melontarkan pernyataan tegas yang langsung menyedot perhatian wartawan usai acara Outlook Media 2026 di Hall Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Dalam sesi doorstop yang berlangsung singkat namun sarat makna itu, Komaruddin menilai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi ancaman terbesar bagi masa depan jurnalisme Indonesia. Ia memperingatkan potensi banjir informasi palsu yang dapat memicu kegaduhan publik hingga konflik sosial, seperti gelombang demonstrasi viral yang belakangan terjadi.
“AI bisa memproduksi informasi dalam jumlah besar, cepat, tapi tanpa tanggung jawab etika. Kalau pers lengah, masyarakat bisa terseret arus hoaks,” tegasnya.
Komaruddin menyerukan seluruh insan pers untuk mengambil peran strategis sebagai “penjaga peradaban”, dengan tetap menjunjung tinggi verifikasi, akurasi, dan integritas informasi di tengah derasnya arus digital.
Ia juga mengkritisi praktik doorstop yang kerap dilakukan tanpa pendalaman konteks, yang menurutnya justru berpotensi melahirkan misinformasi jika tidak diolah secara cermat.
Lebih lanjut, Komaruddin menegaskan bahwa media sosial, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya bukanlah wilayah pers, melainkan hanya sebagai sirkulator informasi yang tidak memiliki standar etik jurnalistik.
“Pers itu punya tanggung jawab moral. Media sosial tidak,” ujarnya lugas.
Pernyataan ini diprediksi akan memicu diskusi hangat di kalangan jurnalis nasional, terlebih menjelang pemilihan kepala daerah, di mana isu regulasi AI dalam pemberitaan mulai mengemuka sebagai agenda penting.
Mengakhiri pernyataannya, Komaruddin menegaskan kembali posisi pers dalam demokrasi Indonesia.“Pers bukan musuh. Pers adalah benteng demokrasi,” pungkasnya.

.png)