Kabarindoraya.com | Maja, Lebak – Banten Di sepanjang jalur Maja–Koleang, debu tebal menempel di atap rumah, pakaian jemuran, buku pelajaran, hingga mukena dan sajadah di mushola. Saat hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin yang menelan motor dan membahayakan pelajar. Semua itu datang dari satu sumber: ratusan truk tanah bertuliskan Gading, Cakra, BKPN dll yang setiap hari mengangkut tanah dari Curugbitung menuju arah utara untuk kebutuhan proyek besar PIK, Penderitaan ini telah berlangsung bertahun-tahun.
720 Warga Tanda Tangan Menolak Galian Tanah
Para Tokoh Maja mengonfirmasi bahwa sebanyak 720 warga telah menandatangani penolakan resmi terhadap aktivitas galian tanah dan lalu lintas truk tanah, Tanda tangan ini dikumpulkan dari orang tua, pedagang kecil, guru ngaji, ibu rumah tangga hingga para kyai dan ustadz yang setiap hari menyaksikan bagaimana lingkungan mereka rusak perlahan.
Dokumen penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat bukan sekadar mengeluh — mereka bersatu, menyatakan sikap, dan menuntut tindakan nyata.
Debu & Lumpur: “Kami Hidup dalam Lingkungan yang Tidak Manusiawi
Debu menutup jalan seperti kabut. Anak-anak batuk tanpa henti. Warung-warung kehilangan pelanggan. Debu masuk ke kelas santri, membuat mereka belajar sambil menutupi hidung.
Saat hujan, jalur tambang berubah jadi arena lumpur yang licin :
motor terjatuh, pelajar terpeleset, dan warga terpaksa memutar rute jauh agar selamat.
“Lingkungan kami bukan hanya rusak, tapi mengancam hidup,” kata seorang warga yang rumahnya hanya tiga meter dari jalur tambang.

.png)