Kabarindoraya.com  |  MALANG — Diskusi publik bedah buku Transformasi Sosial Politik Ala Gen-Z karya Muhammad Nafis menggaungkan kembali pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan sosial dan politik di Indonesia. Acara yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Rabu (26/11/2025) ini dipadati hampir seratus peserta, didominasi mahasiswa dari berbagai kampus di Malang Raya.

Sebagai pemantik utama, Muhammad Nafis memaparkan gagasan bahwa buku ini lahir dari refleksi kritis terhadap stigma yang sering dilekatkan kepada Gen Z. Menurutnya, anggapan bahwa Gen Z hanyalah generasi “healing” jauh dari realitas. Yang sebenarnya terjadi, kata Nafis, adalah kurangnya ruang pembinaan, fasilitasi, dan pendampingan bagi anak muda untuk menyalurkan kemampuan serta kreativitas mereka.

“Banyak anak muda punya kapasitas besar. Tantangannya bukan mereka tidak mampu, tapi belum tersedia ruang dan mentor yang bisa mendampingi secara berkelanjutan,” ujarnya dalam sesi pemantik.

Selain penulis, sejumlah narasumber turut memperkaya diskusi.

Juwita Hayyuning P., akademisi dari FISIP Universitas Brawijaya, menyoroti bahwa Gen Z memiliki kesempatan besar sekaligus kerentanan di era digital. Ia menekankan urgensi literasi digital — terutama bagi perempuan muda — untuk mencegah risiko diskriminasi dan kekerasan berbasis digital.

Dari perspektif media, Yatimul Ainun, Pemimpin Redaksi TIMES Indonesia, menyampaikan bahwa Gen Z kini menjadi aktor dominan di ruang digital. Mereka menggantikan pola konsolidasi konvensional dengan pola konsolidasi maya, yang memungkinkan mobilisasi isu jauh lebih cepat dan luas.

Sementara itu, dukungan dari unsur pemerintahan hadir melalui Alie Mulyanto, Kepala Bakesbangpol Kota Malang. Ia menegaskan bahwa Gen Z bukan sekadar penerus tongkat estafet, tetapi calon pemimpin masa depan yang kreatif, inovatif, dan adaptif.

Antusiasme peserta menunjukkan bahwa anak muda bukan hanya ingin terlibat, tetapi juga siap dibekali untuk berkontribusi. Diskusi ini menjadi ruang dialog terbuka antara mahasiswa, akademisi, media, dan pemerintah mengenai arah transformasi sosial-politik di era digital.

Dengan hadirnya buku ini, Nafis berharap lahir kesadaran kolektif untuk memberi ruang yang cukup bagi Gen Z sehingga mereka benar-benar dapat menjadi kekuatan transformasi sosial-politik yang nyata di Indonesia.