Kabarindoraya.com | Solo - Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, yang akrab disapa Gus Mustain, lahir di Grobogan pada Rabu Pahing, 8 April 1992. Ia dikenal sebagai ulama muda sekaligus akademisi hukum yang tumbuh dari lingkungan sederhana, dengan semangat belajar dan pengabdian yang kuat sejak usia dini. Perjalanan hidupnya tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh disiplin, kesabaran, dan konsistensi dalam menuntut ilmu serta berkhidmat kepada masyarakat.
Sejak kecil, Gus Mustain telah berada dalam lingkungan pendidikan keagamaan. Ia belajar di madrasah diniyyah yang diasuh langsung oleh keluarganya, kemudian melanjutkan pendidikan ke berbagai pesantren di Jawa, seperti di Mangkuyudan, Solo dan Kediri tepatnya di Kwagean dan Lirboyo. Di tempat-tempat inilah ia ditempa secara serius mendalami fiqih, akidah, tafsir, hingga menghafal Al-Qur’an. Proses ini dijalani bertahun-tahun dengan rutinitas yang ketat dan penuh kesungguhan, membentuk fondasi keilmuan yang kuat sekaligus karakter yang tahan uji.
Selain kuat dalam aspek keilmuan, Gus Mustain juga dikenal memiliki riyadhoh yang kuat sejak muda. Ia membiasakan diri menjalani berbagai amalan seperti puasa sunnah, puasa dalail, serta menjaga ibadah malam (qiyamul lail) secara istiqomah. Tradisi melek malam untuk ibadah, membaca Al-Qur’an, serta wirid-wirid tertentu menjadi bagian dari kesehariannya sejak di pesantren hingga sekarang. Bagi beliau, riyadhoh bukan sekadar amalan tambahan, tetapi merupakan proses pembentukan jiwa melatih kesabaran, menguatkan keteguhan hati, serta menjaga keikhlasan dalam setiap langkah perjuangan.
Perjalanan keilmuannya tidak berhenti di pesantren. Ia juga menempuh pendidikan formal secara bertahap, mulai dari sekolah dasar hingga menengah di Grobogan, lalu melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di kampus ini, ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam organisasi dan kegiatan intelektual. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang serius, terbukti dengan kelulusannya yang meraih predikat cumlaude serta nilai tertinggi pada saat wisuda.
Keinginan untuk memperdalam ilmu mendorongnya melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Ia belajar ilmu keislaman di Hadramaut, Yaman dibawah bimbingan para Alim Besar antara lain Syekh Dr. Muhammad bin Ali Baatiyyah, Syekh Dr. Salim bin Abdullah Al Haddar, serta Syekh Dr. Abdullah bin Abu Bakar Bil Faqih dengan fokus pada fiqih dan perbandingan mazhab, beliau berguru kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang kuat. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister hukum, kemudian mengambil program master di luar negeri, hingga menempuh dua program doktoral, termasuk Doktor Ilmu Hukum dari UNS yang juga diraih dengan predikat cumlaude. Semua ini menunjukkan bahwa perjalanan akademiknya dibangun secara serius dan bertahap, dengan keseimbangan antara kekuatan intelektual dan kedalaman spiritual.
Dalam kesehariannya, Gus Mustain menjalankan berbagai peran sekaligus. Ia menikah dengan Hj. Ashfiya Nur Atqiya, S.I.Kom., M.I.Kom., sejak tahun 2016 yang merupakan dzurriyyah atau cucu Drs. KH. Abdul Rozaq Sofawi Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan Surakarta. Gus Mustain Nasoha adalah pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, mengajar sebagai dosen Ilmu Hukum dan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, serta aktif dalam berbagai lembaga keagamaan dan organisasi, seperti menjadi Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama ( PWNU ) Jawa Tengah pada Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum. Aktivitas ini membuatnya berinteraksi langsung dengan berbagai kalangan, mulai dari santri, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang membutuhkan bimbingan dalam persoalan agama maupun hukum.
Selain mengajar dan berdakwah, ia juga aktif menulis. Karya-karyanya mencakup berbagai bidang, mulai dari kitab keislaman seperti fiqih dan ushul fiqih berbahasa arab, hingga buku-buku hukum tata negara, konstitusi, dan isu-isu kebangsaan. Terakhir Gus Mustain Nasoha dalam rangka merayakan ulang tahunnya ke 34 menerbitkan Kitab Tahrirul Qiraat Syarah Syatibiyah sejumlah 6 Jilid atau 1.535 Halaman tentang Ilmu Qiraat Sab’ah dan Asyaroh. Melalui tulisan tersebut, ia berusaha menyampaikan pemikiran dan ilmunya agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat, tidak terbatas hanya di ruang kelas atau pesantren.
Jika dilihat secara utuh, perjalanan hidup Gus Mustain menunjukkan keseimbangan yang jarang dimiliki banyak orang: kuat dalam ilmu, luas dalam pengalaman, dan dalam dalam spiritualitas. Ia membangun dirinya dari bawah, melalui proses panjang yang menggabungkan pendidikan pesantren, pendidikan formal, serta riyadhoh yang konsisten. Semangat, ketekunan, dan komitmen tinggi yang dimiliki Gus Mustain tidak lahir begitu saja. Semua itu tumbuh dan mengalir seiring dengan kuatnya akar nilai dan perjuangan dari garis leluhurnya. Berdasarkan keterangan resmi dari Tepas Darah Ndalem Keraton Surakarta dan Yogyakarta tertanggal 11 Desember 2018, beliau tercatat sebagai keturunan ke-13 dari Sultan Agung, keturunan ke-21 dari Ki Ageng Joko Tarub, keturunan ke-18 dari Ki Ageng Selo, keturunan ke-21 dari Prabu Brawijaya V, keturunan ke-16 dari Joko Tingkir, serta keturunan ke-18 dari Raden Fatah. Rangkaian nasab tersebut bukan sekadar silsilah, melainkan warisan nilai tentang kepemimpinan, keteguhan, keberanian, dan pengabdian kepada umat. Dari jalur-jalur besar inilah, yang pada akhirnya tersambung hingga Wali Songo, mengalir semangat perjuangan yang tidak mudah padam. Hal ini tercermin dalam perjalanan hidup Gus Mustain yang konsisten menempuh jalan ilmu, riyadhoh, dan pengabdian dengan penuh kesungguhan.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sosok seperti Gus Mustain memiliki posisi yang penting. Ia tidak hanya memahami agama secara mendalam, tetapi juga mampu membaca persoalan hukum dan sosial secara lebih luas. Dengan bekal itulah, ia terus berupaya memberikan kontribusi nyata melalui pendidikan, dakwah, serta pemikiran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.

.png)