Kabarindoraya.com  | Bogor  - Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 H, insan pers yang tergabung dalam Bogor Media Siber Network (BSMN) menggelar kegiatan silaturahmi dan makan bersama (cucurak) di Rumah Makan Mak Nis, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (13/2/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiah sekaligus memperkuat solidaritas antar pemilik dan pengusaha media yang berhimpun dalam BSMN. Selain sebagai ajang kebersamaan, pertemuan tersebut juga diisi dengan diskusi strategis mengenai isu-isu aktual, arah kebijakan media ke depan, serta komitmen menjaga marwah jurnalistik yang profesional dan berintegritas.

Dalam sambutannya, Ketua BSMN, Sofwan Ali, menegaskan bahwa momentum Ramadhan bukan hanya sekadar ritual spiritual, melainkan juga refleksi moral bagi insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik.

 “Ramadhan mengajarkan kita tentang disiplin etika, kejujuran, dan tanggung jawab moral. Sebagai insan pers, kita memiliki amanah konstitusional untuk menjaga ruang publik tetap sehat melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan mencerdaskan. Silaturahmi ini bukan sekadar tradisi, melainkan konsolidasi intelektual untuk memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi dan kontrol sosial yang konstruktif,” ujar Sofwan Ali.

Ia juga menambahkan bahwa BSMN harus terus berdiri di atas prinsip independensi dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran.

 “Kritik yang kita bangun haruslah kritik yang solutif dan berbasis data, bukan opini liar. Pers harus tetap menjadi cahaya yang menerangi, bukan api yang membakar tanpa arah,” tegasnya.

Sementara itu, Pembina BSMN, Nurofik, dalam pandangannya menyampaikan bahwa tantangan media siber saat ini semakin kompleks di tengah arus disrupsi digital dan derasnya informasi tanpa verifikasi.

 “Kita hidup dalam era hiperrealitas informasi, di mana batas antara fakta dan opini kerap kabur. Oleh karena itu, insan pers dituntut memiliki kedalaman analisis, integritas moral, dan wawasan kebangsaan yang kokoh. Pers bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga arsitek kesadaran publik,” ungkap Nurofik.

Ia menekankan pentingnya menjaga idealisme jurnalistik sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.