Kabarindoraya.com | Jakarta, 5 November 2025 — Forum Dialog Pentahelix: “Kontroversi AQUA dan Momentum Akuntabilitas Ekologis Air” yang digelar di Salemba, Jakarta, Rabu (5/11), melahirkan Maklumat Salemba 2025 — sebuah pernyataan moral lintas sektor yang menyerukan keadilan ekologis dan reformasi kebijakan air di Indonesia.
Acara yang diinisiasi oleh Pentahelix Center bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas MH Thamrin (FEB UMHT), IndexPolitica, dan Komunitas Kita Tanam Pohon (KTP) ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Air Tanah Dalam, Cadangan Ekologis yang Dieksploitasi
Direktur Eksekutif Pentahelix Center Alip Purnomo menegaskan bahwa praktik eksploitasi air tanah dalam oleh industri air kemasan telah melewati batas moral dan ekologis.
“Air tanah dalam adalah cadangan ekologis strategis, bukan sumber ekonomi jangka pendek. Kebenaran ilmiah tidak otomatis menjadi kebenaran ekologis. Air bisa murni secara kimia, tapi belum tentu murni secara moral,” ungkapnya.
Secara satire, ia mengusulkan agar istilah Produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) ditinjau ulang. Menurutnya, istilah itu menyesatkan secara semantik sekaligus menutupi realitas ekologis.
“Perusahaan air kemasan bukanlah produsen air sungguhan. Mereka tidak memproduksi air, melainkan mengambil air yang diproduksi alam, lalu mengemasnya. Jadi, realitasnya mereka hanyalah perusahaan pengemasan. Istilah yang lebih jujur adalah Produsen Kemasan Berisi Air Minum (KBAM),” jelas Alip.
Usulan ini disambut dengan tepuk tangan peserta sebagai sindiran halus terhadap cara industri mengklaim “produktivitas” atas sumber daya yang seharusnya menjadi hak publik.
Ekonomi Harus Berpihak pada Kehidupan

.png)