Kabarindoraya.com  | Cigudeg - Setiap pagi, suara langkah kaki dan deru motor terdengar di atas jembatan tua di Desa Cintamanik, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Jembatan itu bukan sekadar penghubung dua sisi sungai, melainkan nadi kehidupan bagi ratusan kepala keluarga yang bergantung padanya untuk bekerja, bersekolah, dan berbelanja kebutuhan sehari-hari.  

Namun, di balik rutinitas itu tersimpan rasa waswas. Kayu penopang jembatan mulai lapuk, besi pengikat berkarat, dan lantai jembatan bergoyang setiap kali dilalui kendaraan. “Apa harus menunggu jembatan rubuh dulu baru diperbaiki?” keluh Jamaludin, Kepala Desa Cintamanik, dengan nada getir.  

Jamaludin mengaku sudah berulang kali mengusulkan perbaikan. Ia bahkan mengirim pesan langsung ke pihak kecamatan dan UPT agar segera ditindaklanjuti. “Saya berharap ini bisa masuk program APBD Kabupaten Bogor, seperti desa lain yang sudah mendapat jembatan Rawayan,” ujarnya.  

Bagi warga, jembatan ini adalah urat nadi. Tanpa jembatan, akses ke sekolah, pasar, dan fasilitas kesehatan akan terputus. “Kalau jembatan ini ambruk, kami benar-benar terisolasi,” kata seorang warga yang setiap hari melintasi jembatan dengan anaknya menuju sekolah.  

Harapan kini tertuju pada Pemkab Bogor. Program pembangunan Jembatan Rawayan yang digagas Dinas DPKPP diharapkan bisa menyelamatkan Cintamanik dari ancaman keterisolasian. “Kami hanya ingin jembatan yang kokoh, demi masa depan anak-anak kami,” tambah Jamaludin.  

Di tengah derasnya arus sungai dan rapuhnya tiang penyangga, jembatan Cintamanik berdiri seperti simbol keteguhan warga desa. Mereka tetap melintas, tetap beraktivitas, meski setiap langkah diiringi doa agar jembatan itu bertahan sedikit lebih lama.