Oleh: Mohammad Nasir, Wartawan Harian Kompas (1989-2018)

PENGANTAR REDAKSI: Forum Senja bekerja sama dengan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, menggelar diskusi  refleksi akhir tahun 2025. Pemikiran dan gagasan para narasumber diterbitkan di media anggota AMKI dan Catatan Forum Senja, mulai 27 -31 Desember 2025. 

Para narasumber antara lain Dr. M. Harry Mulya Zein (pakar lmu pemerintahan, Pengajar Ilmu Pemerintahan IPDN dan UI, Dewan Pakar AMKI Pusat), Muhammad Sarwani (wartawan senior dan mantan Redaktur Ekonomi Makro Harian Bisnis Indonesia), Yanto Soegiarto (mantan Pemimpin Redaksi RCTI, Managing Editor Majalah Globe Asia dan kolumnis Jakarta Globe), Tundra Meliala (Ketua Umum AMKI Pusat), Sudarno Wiwoho (pemerhati pendidikan dan kebudayaan), Dr Zarman Syah (Wakil Ketua Umum Dewan Nasional untuk Kesejahteraan Sosial/DNIKS), Dr Suprapto Sastro Atmojo (Ketua Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas, dan Mohammad Nasir (wartawan senior Harian Kompas (1989-2018). 

+ ++

GONJANG-GANJING ekonomi, dinamika politik global, nasional dan lokal  berjalan seiring dan saling mempengaruhi maju-mundurnya ekonomi dan tingkat kesejahteraan rakyat. 

Ketika politik semakin kisruh, pertumbuhan ekonomi semakin tertekan. Bahkan perkembangan ekonomi sering kali diperparah dengan layanan birokrasi di daerah-daerah, terutama perizinan berinvestasi, dan berbagai urusan penunjang ekonomi. 

Pelayanan melalui digitalisasi yang katanya untuk mempermudah layanan publik di lingkup pemerintah daerah (pemda) justru menghambat, karena tidak dilakukan sepenuhnya. Jaringan laba-laba digital terputus, akhirnya digitalisasi hanya menjadi simbol modernitas. 

Dr M. Harry Mulya Zein, Pakar Ilmu Pemerintahan, pengajar Ilmu Pemerintahan Universitas Indonesia mengemukakan, digitalisasi selama ini sering dipromosikan sebagai bagian dari modernisasi birokrasi. 

Janjinya menggiurkan, layanan lebih cepat, transparan, ringkas, dan mudah dijangkau warga. Namun, kata Harry, dalam praktiknya, digitalisasi justru menghadirkan paradoks.