Kabarindoraya.com | Yogyakarta - Banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat dan Sumatera Utara sejak beberapa hari terakhir tidak hanya meninggalkan duka dan kerusakan fisik. Dampaknya menjalar jauh ke arah timur, mencapai pasar-pasar tradisional di Riau.

Harga komoditas pangan, terutama cabai merah dan sayur-mayur, mulai merangkak naik bahkan menembus level yang membuat pedagang dan pembeli sama-sama mengelus dada.

Di Pekanbaru, harga cabai merah kini dilaporkan berada di kisaran Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram, jauh di atas harga normal yang biasanya berada di level Rp70 ribu hingga Rp80 ribu.

Kenaikan itu terjadi seiring terputusnya akses distribusi dari sentra penghasil di Sumbar dan sebagian wilayah Sumut. Jalan rusak, jembatan putus, dan logistik yang tersendat menciptakan kekosongan pasokan yang langsung memukul pasar.

Menurut Wirson Selo, konsultan ekonomi kerakyatan, situasi ini adalah gambaran nyata betapa rentannya ketahanan pangan regional ketika bergantung pada satu sumber pasokan. Ia menilai gangguan distribusi dari Sumatera Barat yang selama ini menjadi pemasok utama hortikultura bagi Riau otomatis memicu gejolak harga.

“Begitu jalur tersumbat, pasar langsung terguncang. Harga naik bukan karena permintaan melonjak, tetapi karena pasokan runtuh,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Kondisi ini bukan hanya mempengaruhi pedagang. Di beberapa pasar, pembeli mulai mengurangi belanja sayur. Para pedagang mengaku omzet turun karena konsumen memilih menahan diri.

Kenaikan harga cabai menjalar ke komoditas lain, memicu kekhawatiran akan efek lanjutan pada harga makanan di warung dan rumah makan. Wirson memperingatkan bahwa jika kondisi ini berlarut tanpa intervensi, inflasi pangan dapat meningkat tajam dan paling membebani kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

“Ini bukan sekadar lonjakan harga harian. Ini potensi krisis pangan jika kita tidak bergerak cepat,” katanya.