Kabarindoraya.com  | Bogor  — Peningkatan curah hujan ekstrem dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan risiko tanah bergerak dan longsor di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini terutama terjadi di kawasan dengan karakter tanah gambut dan lempung yang memiliki daya dukung rendah serta mudah mengalami retak dan penurunan ketika kadar air meningkat.

Situasi tersebut membuat penguatan fondasi menjadi faktor penting dalam pembangunan infrastruktur yang mampu beradaptasi dengan dampak perubahan iklim. Apalagi, wilayah dengan karakter tanah lunak diperkirakan mencakup sekitar 10 persen dari total daratan Indonesia.

Menjawab tantangan tersebut, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk mengembangkan inovasi stabilisasi tanah (soil stabilization) guna memperkuat ketahanan infrastruktur di tengah perubahan iklim. Inisiatif ini juga merupakan bagian dari kolaborasi strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation dari Jepang yang menghadirkan transfer teknologi serta pengalaman dalam menghadapi tantangan geoteknik.

Kerja sama tersebut dilakukan bersama induk usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk melalui perluasan kemitraan strategis yang telah terjalin sejak 2021. Perjanjian bisnis itu ditandatangani di Tokyo pada Januari 2026 oleh lima entitas dari SIG Group dan Taiheiyo Cement Group untuk mempercepat pengembangan bisnis di bidang stabilisasi tanah.

Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Rizki Kresno Edhie Hambali, mengatakan pembangunan infrastruktur yang tangguh harus dimulai dari fondasi yang kuat serta mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

“Perubahan iklim menuntut pendekatan konstruksi yang lebih cermat sejak tahap perencanaan tanah dasar. Melalui inovasi solusi stabilisasi tanah, kami meningkatkan stabilitas struktural untuk ketahanan proyek dalam jangka panjang,” ujar Rizki Kresno dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, teknologi stabilisasi tanah dinilai lebih efisien dibandingkan metode konvensional seperti soil replacement dan vertical drain. Metode ini memungkinkan penggunaan tanah lunak yang sebelumnya tidak stabil di lokasi konstruksi.

Selain mempercepat proses pembangunan, pendekatan tersebut juga mengurangi kebutuhan penanganan tanah berlebih sehingga lebih efisien dari sisi biaya serta berkelanjutan secara lingkungan.

Melalui rekayasa stabilisasi tanah, kuat geser dan daya dukung tanah lunak dapat ditingkatkan secara lebih optimal dengan penggunaan material pengikat yang lebih efisien. Metode ini juga membantu meminimalkan risiko penurunan maupun pergeseran tanah sehingga memperpanjang usia layanan infrastruktur.