Kabarindoraya.com  | Jasinga –Pergantian nama Pendopo Eks Kewedanaan Jasinga menjadi Sasana Budaya Kahfi memantik kontroversi. Bagi sebagian kalangan, ini bukan sekadar pergantian papan nama, melainkan ancaman terhadap akar sejarah dan memori kolektif masyarakat Jasinga.

Sorotan Tajam dari Aktivis Didin Ra Dien, pemuda yang berasal dari Kecamatan Jasinga yakni. Jaringan Kebudayaan Rakyat, menilai penamaan baru itu problematis. “Kalau nama lama yang berbasis sejarah dihapus, lalu diganti dengan simbol yang cenderung personal, ini berbahaya. Bukan hanya menggeser makna, tetapi bisa menghapus memori kolektif masyarakat,” tegasnya. Rabu (29/04/2026)

Menurut Didin, penyematan kata Kahfi tidak jelas merujuk pada Raden Kahfi, sehingga menimbulkan tafsir kabur. Lebih jauh, ia menekankan bahwa pendopo eks kewedanaan berdiri jauh sebelum era Bupati Bogor ke-3, sehingga melekatkan identitas bangunan bersejarah itu pada satu figur dianggap tidak proporsional.

Identitas yang Terancam Eks kewedanaan bukan bangunan biasa. Ia adalah penanda sejarah pemerintahan lokal, simbol peradaban yang lebih tua dan lebih luas daripada sekadar dikaitkan dengan tokoh tertentu. Mengganti nama berbasis sejarah dengan glorifikasi individu, kata Didin, berpotensi mereduksi substansi sejarah Jasinga.

“Ini bukan semata soal nama, ini soal narasi sejarah siapa yang dipertahankan dan siapa yang dihilangkan. Jangan sampai ruang budaya dijadikan alat membangun kultus figur,” ujarnya.

Tanggung Jawab Pemerintah dan Masyarakat

Polemik ini harus menjadi perhatian serius. Sebab, ketika nama historis dihapus, yang hilang bukan sekadar papan penanda, melainkan akar identitas Jasinga itu sendiri. “Jangan sampai sejarah dikorbankan demi kepentingan sesaat,” pungkas Didin.(Dds)