Kabarindoraya.com | JAKARTA – Nama Muhammad Qodari kini resmi menjadi nakhoda baru di Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Pria yang selama dua dekade terakhir dikenal publik sebagai pengamat politik yang lincah dan kontroversial ini, kini berada di pusat lingkar kekuasaan sebagai Kepala Staf Kepresidenan, menggantikan Letjen TNI (Purn) AM Putranto.
Perjalanan karir Qodari mencerminkan pergeseran menarik: dari seorang akademisi yang membedah data pemilu, menjadi aktor yang ikut merumuskan kebijakan di balik gerbang Istana.
*Jejak Akademis dan "Kawah Candradimuka" Riset*
Lahir di Palembang, 15 Oktober 1973, Qodari menempa fondasi intelektualnya di bidang psikologi sosial di Universitas Indonesia (UI). Ketertarikannya pada perilaku pemilih membawanya terbang ke Inggris untuk mendalami Political Behaviour di University of Essex.
Sebelum dikenal sebagai bos Indo Barometer, Qodari melewati masa "magang" di berbagai lembaga bergengsi. Ia tercatat pernah menjadi peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), lalu pindah ke Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Namanya mulai melambung saat menjabat sebagai Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2003-2005, sebelum akhirnya mendirikan Indo Barometer pada tahun 2006.
*Kontroversi "Jokpro" dan Tiga Periode*
Kami mencatat, nama Qodari sempat memicu kegaduhan nasional saat ia secara terbuka menggagas gerakan "Jokowi-Prabowo 2024" (Jokpro). Ide yang mendorong perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode ini menuai kritik tajam dari aktivis demokrasi dan akademisi.
Meski dihujani polemik, Qodari tetap bergeming. Baginya, stabilitas politik adalah kunci, dan penyatuan dua rival besar—Jokowi dan Prabowo—adalah solusi polarisasi. Prediksinya mengenai "rekonsiliasi" akhirnya terwujud nyata saat Prabowo Subianto memenangkan Pilpres 2024 dan merangkul gerbong pemerintahan sebelumnya.
*Puncak Karir di Pemerintahan*

.png)