Kabarindoraya.com | Cibinong |- Di Pendopo Bupati Bogor, Kamis siang itu, wajah-wajah lelah para kepala desa dari Bogor Barat tampak penuh harap. Mereka datang bukan sekadar untuk bersalaman, melainkan membawa suara warganya—suara yang sudah bertahun-tahun menggema: pemekaran Bogor Barat.
Onas Hestiani, Kepala Desa Karacak, menyebut ada 14 kecamatan dan 36 desa yang hadir. “Alhamdulillah kami diterima Bapak Bupati beserta jajaran. Ini jadi ajang silaturahmi karena hampir satu tahun belum bertemu langsung,” katanya. Namun di balik senyum ramah, tersimpan kegelisahan.
Ketimpangan yang Terlihat di Jalan Bogor Barat punya wajah khas: jalan rusak, kemacetan parah, dan debu tambang yang menempel di paru-paru warganya. Setiap hari, jalur Dramaga–Leuwiliang menjadi saksi penderitaan ribuan orang yang berangkat kerja atau sekolah. Ketimpangan pembangunan terasa nyata, seolah wilayah barat selalu berada di pinggir perhatian.

Janji yang Tak Pernah Usai Dalam audiensi, Bupati kembali menegaskan bahwa proses Daerah Otonomi Baru (DOB) Bogor Barat “akan terus berjalan sesuai aturan.” Kata “akan” itu terdengar familiar. Warga sudah terlalu sering mendengarnya, tanpa pernah melihat wujud nyata. Janji politik tanpa tenggat waktu hanya menjadi arsip pidato.
Harapan di Tengah Debu Selain pemekaran, Bupati menyampaikan rencana pembangunan jalan lintas Rancabungur–Leuwiliang. Rencana itu diharapkan bisa mengurai kemacetan. Masalah jalan tambang pun disebut akan ditangani. Tetapi bagi warga, kata “akan” sudah terlalu sering hadir, sementara debu, kerusakan, dan kecelakaan tetap mereka rasakan.
Menunggu Bukti Audiensi ini bisa jadi awal perubahan, atau sekadar episode baru dari rutinitas mendengar keluhan lalu pulang membawa janji. Bogor Barat tidak butuh tepuk tangan politik. Bogor Barat butuh bukti. ***

.png)