Kabarindoraya.com | Surakarta, 18 April 2026. Suasana malam yang penuh ketenangan dan kekhusyukan menyelimuti Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta dalam gelaran pengajian umum yang dihadiri ratusan santri, para asatidz, serta masyarakat dari berbagai penjuru Surakarta. Dengan adab khas tradisi pesantren, para jamaah duduk tertib, hening, dan penuh perhatian, mencerminkan semangat tafaqquh fiddin yang hidup dan terjaga.
Dalam forum yang sarat nilai ukhuwah dan khidmah tersebut, KH. Munasir Nur Nasoha menyampaikan tausiyah mendalam dengan pendekatan yang khas ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyah, yakni mengedepankan keseimbangan antara dimensi spiritual (hablum minallah) dan sosial (hablum minannas). Kyai asal Grobogan ini dikenal luas sebagai sosok alim yang sejak usia muda hingga masa purna tugas mengabdikan diri sebagai pemerhati sekaligus praktisi pendidikan, sehingga setiap dawuh yang disampaikan terasa membumi, aplikatif, dan sarat hikmah.
Dalam penuturannya, beliau menegaskan bahwa kesuksesan hidup dalam perspektif Islam tidak dapat direduksi hanya pada capaian material, melainkan harus dipahami sebagai keberhasilan dalam meraih barokah dan ridha Allah. Oleh karena itu, diperlukan laku yang sederhana namun istiqamah sebagai fondasi kehidupan.
Beliau mengawali dengan menekankan pentingnya menjaga shalat berjamaah sebagai bentuk penguatan hubungan vertikal dengan Allah. Dalam tradisi NU, shalat berjamaah bukan sekadar kewajiban formal, tetapi merupakan bagian dari riyadhah (latihan spiritual) yang membentuk kedisiplinan, ketundukan, dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap lini kehidupan.
“Shalat jamaah itu bukan hanya ibadah, tapi juga laku mendidik diri. Siapa yang terbiasa hadir memenuhi panggilan Allah, insyaAllah hidupnya akan diatur oleh Allah,” demikian kurang lebih inti dawuh beliau yang disampaikan dengan penuh keteduhan.
Beliau juga mengingatkan bahwa seringkali manusia berharap kelapangan rezeki dan kemudahan urusan, namun lalai dalam menjaga kewajiban shalat berjamaah. Dalam pandangan beliau, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketimpangan antara harapan dan ikhtiar spiritual. Shalat berjamaah menjadi wasilah utama turunnya pertolongan Allah, yang dalam istilah pesantren kerap disebut sebagai jalan “ngalap barokah” melalui kedekatan kepada-Nya.
Memasuki pembahasan kedua, beliau menguraikan pentingnya memuliakan tamu sebagai manifestasi hubungan sosial yang berlandaskan adab dan akhlak. Dalam tradisi nahdliyah, memuliakan tamu bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari pengamalan iman dan bentuk khidmah kepada sesama.
Beliau menjelaskan bahwa tamu seringkali menjadi perantara datangnya keberkahan. Kehadirannya tidak hanya membawa interaksi sosial, tetapi juga membuka pintu rezeki, menghapus dosa, serta menghadirkan kemudahan yang tidak disangka-sangka. Oleh karena itu, menyambut tamu dengan wajah yang ramah, hati yang lapang, dan pelayanan yang tulus merupakan bagian dari adab yang harus dijaga.
“Jangan memandang tamu sebagai beban. Dalam tradisi kita, tamu itu membawa barokah. Kadang dia datang dengan kebutuhan, tapi pulang dengan membawa keberkahan untuk tuan rumah,” tutur beliau dengan gaya khas kyai yang sederhana namun mengena.

.png)