Kabarindoraya.com | Jakarta – Demokrasi Indonesia dinilai perlu segera beradaptasi dengan kemajuan teknologi guna mengatasi kerumitan logistik dan meminimalisasi sengketa hasil pemilihan umum. Menyongsong Pemilu 2029, Pimpinan Nasional (Pimnas) Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) mendorong diterapkannya sistem pemungutan suara elektronik (e-voting) yang ditopang oleh teknologi Blockchain.
Wakil Ketua Umum Pimnas PKN, Denny Charter, menegaskan bahwa wacana modernisasi pemungutan suara kini bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak untuk mewujudkan asas pemilu yang jujur, adil, transparan, dan akuntabel.
"Demokrasi yang matang memerlukan instrumen elektoral yang adaptif. Kami di PKN melihat penerapan e-voting bukan hanya sekadar modernisasi alat, tetapi sebuah rekayasa ulang proses pemilu untuk memberantas celah kecurangan. Sudah saatnya kita tinggalkan kerumitan pemilu kertas di 2029 nanti," ujar Denny Charter dalam keterangannya, Sabtu (20/6).
Lebih lanjut, Denny menyoroti dua aspek krusial dari penerapan e-voting: efektivitas operasional dan efisiensi anggaran negara.
Menurutnya, pemilu konvensional menyedot anggaran triliunan rupiah hanya untuk urusan rantai pasok fisik, seperti pencetakan, distribusi logistik ke pelosok, hingga pengamanan surat suara.
"Bayangkan efisiensi yang bisa dilakukan negara jika rantai pasok logistik fisik ini dipangkas drastis. Anggaran tersebut bisa dialihkan ke sektor publik yang lebih membutuhkan. Selain itu, proses penghitungan suara berjenjang yang memakan waktu berminggu-minggu dan sangat menguras fisik petugas bisa digantikan dengan tabulasi real-time yang cepat dan presisi," tegas Denny.
Terkait kerentanan manipulasi dan sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK) yang sering mewarnai pasca-pemilu, Denny Charter meyakini bahwa sistem digital terstandardisasi akan menekan angka human error. Deviasi antara suara yang diberikan pemilih dengan hasil akhir rekapitulasi dapat ditekan hingga mendekati nol persen.
Menjawab keraguan publik mengenai keamanan siber dan potensi peretasan server pada sistem e-voting, Denny memaparkan bahwa teknologi Blockchain adalah solusi mutlak yang menjadi arsitektur anti-kecurangan.
"PKN mendorong e-voting yang berbasis Blockchain. Kenapa? Karena data tidak disimpan di satu server pusat yang rentan diretas. Jaringannya terdesentralisasi dan divalidasi oleh banyak pihak independen. Sifatnya immutable, artinya setiap suara yang masuk akan dienkripsi dan mustahil untuk diubah, dihapus, atau dimanipulasi oleh siapa pun tanpa merusak seluruh sistem jaringan," papar alumnus Universitas Telkom tersebut.
