Kabarindoraya.com | SURAKARTA, 24 Februari 2026 — Program kajian bakda Subuh di Masjid Jami’ Ar Rochili, Laweyan, Surakarta, pada bulan Ramadhan 2026 menghadirkan nuansa ilmiah dan spiritual yang kental. Pengajian kali ini menghadirkan Ust. Muhammad Hadziq Maftuh, Lurah Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta sekaligus mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, sebagai pemateri Kitab Latoiful Ma’arif.
Kegiatan yang dilaksanakan setelah shalat Subuh berjamaah tersebut diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, santri, hingga generasi muda. Antusiasme terlihat dari banyaknya jamaah yang tetap bertahan untuk menyimak kajian hingga selesai.
Kitab Latoiful Ma’arif karya Ibn Rajab al-Hanbali merupakan salah satu rujukan penting dalam khazanah keilmuan Islam yang memadukan dimensi hadits, fiqih, dan tasawuf secara harmonis. Kitab ini membahas keutamaan waktu-waktu istimewa dalam kalender hijriyah, khususnya bulan Ramadhan, dengan menghadirkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits Nabi ﷺ, atsar para sahabat, serta penjelasan mendalam para ulama tentang hikmah ibadah dan rahasia spiritual yang terkandung di dalamnya.
Dalam pemaparannya di Masjid Jami’ Ar Rochili Laweyan Surakarta, Ust. Muhammad Hadziq Maftuh menegaskan bahwa Latoiful Ma’arif bukan sekadar kitab tentang “fadhoilul a’mal” (keutamaan amal), melainkan peta perjalanan ruhani seorang mukmin dalam memaknai waktu sebagai amanah ilahiyah. Menurutnya, waktu dalam perspektif Ibn Rajab bukan sekadar hitungan kalender, tetapi ladang amal yang menentukan kualitas kedekatan hamba dengan Rabb-nya.
Ia menjelaskan bahwa Ramadhan dalam kitab tersebut digambarkan sebagai madrasah tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih jiwa untuk mengendalikan syahwat, menundukkan ego, serta membebaskan hati dari ketergantungan duniawi. Dalam kacamata tasawuf, puasa menjadi sarana melemahkan dominasi nafs ammarah dan menguatkan dimensi ruhani.
“Puasa itu bukan sekadar menahan fisik, tetapi menahan hati dari penyakit riya’, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan,” jelasnya di hadapan jamaah.
Hadziq menguraikan bagaimana Ibn Rajab menempatkan Ramadhan sebagai momentum tajdidul iman (pembaruan iman). Ia mencontohkan bagaimana para ulama salaf mempersiapkan Ramadhan dengan doa enam bulan sebelumnya, lalu menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail, tilawah, dan munajat panjang. Bahkan setelah Ramadhan berakhir, mereka tetap menjaga konsistensi amal sebagai tanda diterimanya ibadah.
Dalam pembahasan tentang Lailatul Qadar, Ust. Hadziq menjelaskan dimensi tasawuf yang mendalam. Ia menyampaikan bahwa malam tersebut bukan hanya malam penuh pahala, tetapi momentum turunnya ketenangan (sakinah) dan limpahan cahaya ilahi ke dalam hati hamba yang bersih. Oleh karena itu, kebersihan hati menjadi syarat penting untuk meraih keberkahan malam tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan (ikhlas) sebagai inti seluruh amal. Mengutip penjelasan ulama dalam kitab tersebut, ia menyampaikan bahwa amal tanpa keikhlasan ibarat jasad tanpa ruh. Dalam perspektif tasawuf, keikhlasan adalah proses panjang membersihkan niat dari campuran kepentingan diri.

.png)