Kabarindoraya.com  | TANGGAMUS – Sudah 26 tahun berlalu sejak pertama kali berdiri pada 1996, namun kondisi “sekolah gubuk” di Dusun Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, nyaris tak berubah. Bangunan kayu sederhana itu masih menjadi tempat belajar anak-anak—di saat pemerintah terus mengklaim peningkatan kualitas pendidikan.

Viralnya video kondisi sekolah tersebut di media sosial bukan sekadar konten empati. Ia membuka fakta yang selama ini luput dari perhatian: ketimpangan nyata antara pusat pembangunan dan wilayah pinggiran.

Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdik) Victor Libradi memberikan klarifikasi. Bangunan itu disebut sebagai kelas jauh dari SD Negeri Tanjung Raja, yang memang diperuntukkan bagi wilayah dengan akses sulit.

“Lokasinya sekitar 10 kilometer dari sekolah induk, dengan medan perbukitan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua,” jelas Victor .

Namun publik mempertanyakan:

apakah sulitnya akses bisa dijadikan alasan pembiaran selama puluhan tahun?

Di lokasi tersebut, hanya ada 13 siswa dari kelas 2 hingga kelas 5 yang belajar dengan satu orang guru. Fasilitas belajar pun jauh dari kata memadai. Bahkan, sebagian besar perbaikan bangunan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat—bukan dari program pembangunan terstruktur pemerintah.

Ironi semakin terasa ketika pemerintah menyebut bahwa sekolah induk telah dibangun secara permanen melalui APBD tahun 2021–2022 lengkap dengan fasilitas pendukung.

Artinya, pembangunan memang ada ,