Kabarindoraya.com | Jakarta – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diwarnai aksi demonstrasi mahasiswa di depan gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Senin (4/5/2026).
Massa aksi yang berkumpul sejak pagi hari menyuarakan kritik terhadap ketimpangan akses pendidikan, rendahnya kesejahteraan guru, hingga dugaan penyalahgunaan anggaran pendidikan.
Dalam orasinya, mahasiswa menegaskan bahwa kondisi pendidikan nasional saat ini jauh dari ideal.
“Pendidikan kita tidak baik-baik saja,” seru Ulhaq, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Pusat dalam orasinya.
Mahasiswa menilai bahwa meskipun pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 sebesar 20 persen, realisasi di lapangan dinilai belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
“Amanat konstitusi mengharuskan 20 persen anggaran untuk pendidikan, tapi apa kenyataannya?” ujar orator tersebut.
Selain itu, massa aksi juga menyoroti ketimpangan yang masih terjadi antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Mereka menilai pembangunan pendidikan masih terpusat di kota-kota besar, sementara daerah tertinggal belum mendapatkan perhatian yang memadai.
“Pendidikan Indonesia hanya berpusat di kota, sedangkan teman-teman kita di daerah tidak merasakan hal yang sama,” ujar Fikri dalam orasinya.
Isu kesejahteraan guru turut menjadi sorotan dalam aksi tersebut. Mahasiswa menyebut masih banyak tenaga pendidik di daerah yang menerima gaji jauh dari kata layak.

.png)