Kabarindoraya.com | Batu Bara - Hutan Mangrove Kabupaten Batu Bara berpotensi akan menjadi penyerap karbon dioksida (CO2) salah satu terbesar di dunia. Hal ini dikarenakan Pemerintah Kabupaten Batu Bara terus-menerus melakukan upaya pelestarian hutan mangrove yang sebagaimana diketahui, Kabupaten Batu Bara mempunyai panjang garis pantai sepanjang 63 km yang langsung berbatasan dengan Selat Malaka.
Salah satu upaya pelestarian hutan mangrove dengan menggelar Mangrove Culture Festival pertama yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Batu Bara berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Pesisir Indonesia (Yakopi) di kawasan Pantai Sejarah, Sabtu (19/07/2025).
Mangrove Culture Festival dibuka langsung oleh Bupati Batu Bara Bapak H. Baharuddin Siagian, SH, M.Si dan Wakil Bupati Bapak Syafrizal, SE, M.AP dengan agenda kegiatan pertama jalan santai bersama yang diikuti ribuan peserta, acara lucky draw dengan hadiah utama sepeda sport, kulkas, mesin cuci dan ratusan hadiah menarik lainnya.
Kegiatan selanjutnya menanam pohon mangrove yang dilakukan Bupati, Wakil Bupati, Direktur Yakopi, unsur Forkopimda Batu Bara dan para penggiat pelestari pesisir sebagai wujud pelestarian hutan mangrove yang saat ini total hutan mangrove di Kabupaten Batu Bara seluas 576 ha dan akan terus diperluas sepanjang pesisir pantai Kabupaten Batu Bara yang diperkirakan bisa mencapai puluhan ribu hektar.

Dengan luas hutan mangrove 576 ha dan jumlah pohon mangrove dalam satu hektar diperkirakan 2.500 per hektar dan daya serap sekitar 6.048 ton karbon dioksida per hektar. Sehingga dapat dikalkulasikan potensi saat ini hutan mangrove di Kabupaten Batu Bara dapat menyerap karbon dioksida sebanyak 3.483.648 ton.
Dalam sambutannya, Bupati Batu Bara Bapak Baharuddin Siagian menekankan pentingnya pelestarian hutan mangrove di Kabupaten Batu Bara.
"Karena, hutan mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer, bahkan lebih efektif daripada hutan daratan. Proses ini terjadi melalui fotosintesis, dimana tumbuhan mangrove mengubah karbon anorganik (CO2) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi," ujar Bupati Batu Bara.
Selanjutnya, Bupati Batu Bara Bapak Baharuddin Siagian menyebutkan bahwa hutan mangrove di kawasan Pantai Sejarah tidak kalah baiknya dengan hutan mangrove di tempat lainnya.
"Karena potensinya yang besar dan setiap beberapa periode musim (periode Oktober-Mei) burung-burung dari luar negeri yang sebagian besar dari Benua Australia yang melakukan imigrasi ke kawasan hutan mangrove di kawasan Pantai Sejarah," lanjutnya.

.png)