Kabarindoraya.com  | Surakarta, 18 April 2026 — Pelaksanaan Wisuda Periode III Tahun 2026 Universitas Sebelas Maret (UNS) yang diselenggarakan di Auditorium UNS berlangsung dalam atmosfer akademik yang khidmat, reflektif, sekaligus sarat makna epistemologis. Agenda wisuda tersebut tidak hanya berfungsi sebagai seremoni formal pelepasan lulusan, melainkan juga sebagai ruang artikulasi kesadaran intelektual atas peran strategis kaum terdidik dalam struktur sosial, kebangsaan, dan peradaban.

Dalam forum akademik tersebut, Dr. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, lulusan Program Doktor Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNS, didaulat sebagai wakil wisudawan untuk menyampaikan pidato resmi di hadapan Rektor, Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Dewan Profesor, serta seluruh civitas akademika dan tamu undangan. Penunjukan ini mencerminkan legitimasi akademik sekaligus pengakuan terhadap kapasitas intelektual, kedalaman refleksi, serta integritas kepemimpinan yang dimilikinya.


Dalam pidatonya, Mustain Nasoha mengonstruksi narasi yang tidak sekadar bersifat apresiatif, tetapi juga reflektif dan normatif-konstruktif. Ia menempatkan momentum wisuda sebagai sebuah epistemic turning point, yakni titik transisi dari fase akumulasi pengetahuan menuju fase aktualisasi nilai dan pengabdian sosial. Wisuda, dalam perspektifnya, bukanlah terminus dari perjalanan akademik, melainkan inisiasi terhadap tanggung jawab sosial yang lebih kompleks dan multidimensional.

Ia menegaskan bahwa capaian akademik yang diraih para wisudawan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan ikhtiar rasional, disiplin intelektual, serta dukungan spiritual dan sosial yang kolektif. Namun demikian, capaian tersebut tidak boleh direduksi sebagai keberhasilan individual semata, melainkan harus dimaknai sebagai amanah intelektual (intellectual trust) yang mengandung konsekuensi etis dan sosial.

Dalam kerangka tersebut, Mustain Nasoha menekankan pentingnya transformasi ilmu dari sekadar knowing menuju doing, bahkan hingga being. Artinya, pengetahuan tidak cukup berhenti pada dimensi kognitif, tetapi harus teraktualisasi dalam tindakan nyata serta terinternalisasi dalam karakter dan orientasi hidup. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma knowledge for social impact, yang menempatkan kebermanfaatan sosial sebagai indikator utama validitas dan relevansi ilmu pengetahuan.

Sebagai penguatan argumentasi, ia mengutip pemikiran Albert Einstein yang menyatakan, “Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.” Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa orientasi utama seorang intelektual bukanlah sekadar pencapaian personal yang bersifat simbolik, melainkan kemampuan menghadirkan nilai yang berdampak nyata bagi masyarakat luas.

Lebih lanjut, ia juga merujuk pada pandangan filosofis Aristoteles, “The roots of education are bitter, but the fruit is sweet,” yang menggarisbawahi bahwa proses pendidikan yang penuh tantangan merupakan bagian inheren dari pembentukan kualitas manusia. Dalam perspektif ini, kesulitan akademik bukanlah hambatan, melainkan instrumen pembentukan kedewasaan intelektual dan integritas moral.

Dalam konteks kebangsaan, Mustain Nasoha mengaitkan capaian akademik dengan realitas objektif yang dihadapi Indonesia, termasuk kompleksitas persoalan hukum, ketimpangan sosial, serta dinamika global yang semakin kompetitif. Ia menegaskan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pengamat pasif, melainkan harus tampil sebagai agents of change yang memiliki kapasitas analitis, keberanian bertindak, serta komitmen terhadap nilai-nilai integritas dan keadilan.

Ia juga mengartikulasikan tanggung jawab alumni sebagai bentuk konkret dari civic responsibility dan moral accountability. Dalam pandangannya, kontribusi terhadap bangsa dan almamater merupakan konsekuensi logis dari pendidikan tinggi yang telah diterima. Oleh karena itu, ia mendorong para wisudawan untuk mengaktualisasikan keilmuan dalam berbagai sektor, baik melalui praktik profesional, inovasi sosial, maupun kontribusi intelektual yang berkelanjutan.


Dalam dimensi sosiologis, Mustain Nasoha turut merefleksikan peran Universitas Sebelas Maret sebagai institusi yang tidak hanya menjalankan fungsi transfer of knowledge, tetapi juga character building. Ia menggambarkan UNS sebagai ruang pembentukan identitas intelektual yang holistik, di mana mahasiswa tidak hanya ditempa secara akademik, tetapi juga dibentuk dalam kerangka nilai, etika, dan integritas.