Kabarindoraya.com | Pandeglang – Kreativitas seniman Pandeglang tak ikut surut meski fasilitas kesenian masih minim. Demi tetap berkarya, mereka menyulap Gedung Olahraga (GOR) Cikupa menjadi ruang pertunjukan sementara untuk mementaskan Wayang Musikal Babad Banten pada 20 Juni 2026.
Pertunjukan bertajuk "Di Ujung Pena, Di Ujung Darah: Transformasi Manuskrip Babad Banten" itu mengangkat naskah kuno Babad Banten ke panggung modern melalui perpaduan wayang, teater, musik, gerak, dan visual.

Tak sekadar menjadi tontonan, pementasan ini juga menjadi pengingat bahwa hingga kini Kabupaten Pandeglang belum memiliki gedung kesenian maupun taman budaya yang representatif.
Kondisi tersebut memaksa para seniman beradaptasi. GOR Cikupa yang sejatinya diperuntukkan bagi kegiatan olahraga disulap menjadi ruang pertunjukan lengkap dengan tata panggung, tata cahaya, tata suara, hingga penataan artistik.
GOR Cikupa sendiri merupakan fasilitas olahraga yang diresmikan Pemerintah Kabupaten Pandeglang pada April 2025 untuk mendukung cabang olahraga seperti basket, futsal, panahan, dan bola voli.
Melihat kapasitas gedung yang cukup besar, para seniman dan komunitas budaya bergotong royong mengubah fungsi sementara bangunan tersebut menjadi ruang budaya yang mampu menampung puluhan seniman dan ratusan penonton.
Perwakilan komunitas seniman Pandeglang, Tirta Nugraha Pratama, menilai kebutuhan akan gedung kesenian di daerah tersebut sudah semakin mendesak.
"Kami mengapresiasi berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan pemerintah. Namun kami juga berharap pembangunan kebudayaan mendapatkan perhatian yang sama. Seni dan budaya tidak hanya membutuhkan program, tetapi juga membutuhkan ruang yang layak untuk tumbuh," ujar Tirta kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, selama ini para pelaku seni terpaksa memanfaatkan ruang-ruang yang sebenarnya tidak dirancang untuk kebutuhan pertunjukan.
